· Teknologi

Etika Kurasi 2026: Mengapa Editor Adalah Penjaga Gawang di Era AI

Di tengah gempuran konten instan, mari membahas mengapa 'rasa' dan 'disiplin' adalah dua pilar yang tidak bisa digantikan oleh algoritma apa pun.

Etika Kurasi 2026: Mengapa Editor Adalah Penjaga Gawang di Era AI

Duduk di bangku warung kopi tradisional dengan ponsel Android di tangan, saya sering melihat internet Januari 2026 ini seperti pasar yang sedang banjir, isinya campur aduk antara informasi emas dan tumpukan sampah digital. Masalahnya, sekarang sampah itu terlihat sangat cantik karena dipoles oleh AI. Itulah alasan mengapa kita perlu bicara soal Etika Kurasi, tentang bagaimana nurani kita tetap memegang kendali atas mesin.

1. Akurasi Adalah Harga Mati (Bukan Sekadar Ringkasan)

Salah satu jebakan terbesar saat ini adalah rasa percaya diri yang berlebihan pada fitur Deep Research. Kita sering menganggap ringkasan AI itu sudah pasti benar. Padahal, etika kurasi menuntut kita untuk selalu melakukan verifikasi sumber primer.

Jangan pernah menelan mentah-mentah draf yang bilang “Riset menunjukkan…” tanpa Anda melihat sendiri dokumen aslinya. Editor yang punya etika akan mengejar data sampai ke akarnya, memastikan tidak ada konteks yang terpelintir hanya karena AI ingin terdengar “menyenangkan”. Kalau datanya meragukan, mending hapus satu paragraf daripada menyebar satu kebohongan.

2. Struktur Piramida Terbalik: Menghargai Waktu Pembaca

AI cenderung “berbunga-bunga” di awal tulisan, penuh dengan kata pengantar yang seringkali tidak perlu. Etika kurasi berarti kita menghormati waktu pembaca dengan menerapkan disiplin Inverted Pyramid.

Taruh informasi paling krusial di paling atas. Jika sebuah informasi bisa selesai dalam tiga paragraf tanpa kehilangan esensinya, jangan paksa jadi sepuluh paragraf hanya supaya kelihatan panjang. Polusi informasi itu nyata, dan tugas kita sebagai editor adalah memangkas kebisingan tersebut.

3. Transparansi dan Kejujuran Intelektual

Di tahun 2026, kita punya standar SynthID untuk menandai konten buatan AI. Etika kurasi berarti kita tidak berusaha menjadi “penipu kreatif” yang menyembunyikan bantuan AI demi pujian pribadi.

Mengaku memakai bantuan Gemini atau Labs justru menunjukkan integritas kita. Itu artinya kita memberitahu pembaca: “Saya memakai alat tercanggih untuk riset dan draf, tapi saya menjamin setiap opini di sini adalah murni hasil pemikiran manusia.” Kejujuran semacam ini jauh lebih mahal harganya daripada pengakuan palsu yang akhirnya terdeteksi juga oleh algoritma.

4. Injeksi Nyawa dan Opini Manusiawi

Ini bagian yang sering saya sebut sebagai “Ampas Kopi Tulisan”. AI bisa menulis dengan rapi, tapi ia tidak punya keberanian untuk berpihak. Etika kurasi mewajibkan kita untuk memasukkan sudut pandang pribadi.

Sebuah draf yang bersih dari kesalahan tetaplah sampah jika tidak punya “jiwa”. Tambahkan pengalaman unik Anda, tambahkan kritik yang tajam, atau tambahkan metafora harian yang hanya dipahami oleh manusia yang benar-benar hidup di dunia nyata. Jangan biarkan tulisan Anda terasa seperti buku manual mesin cuci yang baru keluar dari kardus.


Tentang Pilihan Editorial: Formal atau Merakyat?

Sebagai penutup, penting bagi kita untuk menyadari bahwa setiap tanda baca adalah representasi dari karakter penulisnya. Dalam standar editorial yang lebih senior atau formal, Anda akan sering menemui penggunaan tanda pisah untuk memberikan penekanan yang tegas dan menciptakan jarak profesional yang otoritatif. Pilihan katanya pun cenderung berat, menggunakan istilah seperti integritas, mitigasi, atau kognisi, yang bertujuan untuk membangun wibawa institusional.

Namun, di meja warung kopi ini, saya lebih memilih gaya yang berbeda. Saya lebih suka menggunakan tanda koma untuk menjaga ritme tulisan agar tetap luwes, memberikan jeda verbal yang terasa seperti obrolan manusiawi. Alih-alih menggunakan istilah teknis yang mentereng, saya lebih suka memakai analogi harian seperti ampas kopi atau pasar malam. Tujuannya sederhana, saya ingin tulisan ini terasa jujur, merakyat, dan dekat dengan pembaca, tanpa harus kehilangan bobot informasinya.

Pada akhirnya, tidak ada pilihan yang salah di antara keduanya. Yang penting adalah konsistensi dan kejujuran nurani di balik setiap kata yang kita publikasikan.

Komentar

Artikel terkait

Lihat semua »